Catatan Denny JA: Di Kereta Itu, Tak Ditemukannya Sepasang Mata Bola
- Penulis : Bramantio Bayuajie
- Rabu, 04 September 2024 08:25 WIB

(Selesai aksi protes mahasiswa dan civil society atas RUU Pilkada dan masa depan demokrasi, Agustus 2024, seorang pengusaha yang dulunya aktivis, rindu suasana perjuangan)
LIFESTYLEABC.COM - Di kereta api menuju Jogjakarta,
sia- sia ia cari sepasang mata bola.
Hidup memang memberinya singasana.
Sepatu dari emas.
Kacamata ditaburi berlian.
Tapi hatinya tetap seorang aktivis.
Rindu gelora.
Tersentuh pekik perjuangan.
Baca Juga: Puisi Karya Denny JA Suara Burung di Telinga Aktivis
Kereta melaju.
Dalam hening, ia mendengar kembali lagu itu:
“Hampir malam di Jogja.
Ketika keretaku tiba.
Remang- remang cuaca.
Terkejut aku tiba- tiba.
Dua mata memandang.
Seakan- akan ia berkata.
Lindungi aku pahlawan.
Daripada si angkara murka.
Baca Juga: Denny JA: Selamat Datang Era Kreativitas Bersama Artificial Intelligence
Sepasang mata bola.
Dari balik jendela.” (1)
Gelora aktivisnya meledak.
Dari jendela kereta, dipandangnya gedung dan pohon.
Tapi dibayangkannya suasana tahun 1945.
Orang- orang bergerak di jalan, bawa bambu runcing,
bersemangat,
pekik merdeka atau mati.
Ujarnya, “aku napak tilas ke Jogjakarta, di rel kereta yang dulu
membawa Bung Karno, Bung Hatta, Jenderal Sudirman.”
Baca Juga: Pesan Denny JA pada Karya Lukisan Paus Fransiskus
Dibayangkannya bom meledak.
Serdadu Jepang berkeliaran di kereta.