Catatan Denny JA: Warna Nasionalisme di Era Algoritma
- Penulis : Bramantio Bayuajie
- Senin, 28 Oktober 2024 09:46 WIB

Soekarno, Hatta, dan Ki Hajar Dewantara berjuang demi kemerdekaan. Mereka menciptakan identitas kebangsaan yang kokoh.
Namun, globalisasi membawa perubahan. Nasionalisme mulai terbuka pada pengaruh asing. Menjadi bagian bangsa bukan berarti menolak dunia luar.
Nasionalisme berkembang menjadi semangat yang menyerap nilai-nilai baru. Identitas kebangsaan Indonesia menjadi campuran, tradisi dan modernitas.
Baca Juga: LSI Denny JA Rilis Data Tentang Kekhawatiran Masyarakat Soal Judi Online Untuk Keuangan
Kini, di era algoritma, nasionalisme mengalami babak baru. Identitas kebangsaan tidak lagi tercipta melalui sejarah atau pendidikan. Ia terbentuk oleh layar digital dan konten.
Generasi baru membangun kebangsaan mereka dari realitas yang dibentuk algoritma. Nasionalisme menjadi lebih fleksibel, tetapi juga lebih rentan.
-000-
Baca Juga: LSI Denny JA Rilis Data Tentang Perkembangan Ekonomi 10 Tahun Pemerintahan Jokowi
Menjaga Nasionalisme di Era Algoritma
Menghadapi era algoritma, setiap individu harus siap dan disiapkan. Jangan sampai terjadi Algoritma menjadi tuan dan individu budaknya.
Kita butuh literasi digital yang mendalam. Masyarakat perlu menyadari dan memilih pengaruh algoritma pada identitas mereka.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Hukum Ketiga Hidup Bermakna, Passion
Di negara-negara maju, literasi digital menjadi prioritas. Masyarakat diajarkan untuk berpikir kritis, menyaring informasi yang mereka konsumsi, sejak di sekolah.