Catatan Denny JA: Ketika 221 Penulis Bersaksi soal Pemilu dan Demokrasi di Indonesia, Tahun 2024
- Penulis : Bramantio Bayuajie
- Minggu, 17 November 2024 10:20 WIB

Kesepakatan elit politik saat itu dianggap sudah melampaui batas toleransi sebuah negara yang berkomitmen menegakkan demokrasi dan prinsip konstitusi, dengan peran sentral Mahkamah Konstitusi.
Setiap karya menjadi potret mikro, menangkap detail yang mungkin luput dari pengamatan publik luas.
Bersama-sama, mereka membentuk gambaran makro yang utuh, menunjukkan kompleksitas demokrasi Indonesia.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Warna Nasionalisme di Era Algoritma
Lebih dari sekadar kumpulan tulisan, buku ini adalah arsip sejarah. Pilkada serentak 2024, memilih pemimpin di seluruh daerah Indonesia, dari Aceh hingga Papua, adalah momen penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
Karena begitu banyak dan beragamnya tulisan yang harus diedit, buku ini dikawal oleh empat editor sekaligus: Satrio Arismunandar, Jonminofri, Dhenok Kristianti, dan Elza Peldi Taher.
Dalam setiap esai, puisi, dan cerpen, tersimpan kesaksian yang merekam bagaimana masyarakat memahami, merayakan, dan mengkritisi demokrasi pada level yang paling personal.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Menyelamlah, Apapun Agama yang Dianut
Program ini juga menjadi bukti kekuatan kolaborasi. Di bawah naungan Satupena, para penulis dari berbagai daerah bergabung untuk bersaksi.
Ini bukan sekadar koleksi individu, tetapi juga manifestasi dari solidaritas komunitas penulis yang percaya bahwa kata-kata dapat menjadi alat perubahan.
-000-
Baca Juga: Catatan Denny JA: Mengapa Donald Trump Menang dan Apa Efeknya untuk Indonesia
Beberapa karya dalam buku ini menonjol, baik dalam genre esai maupun fiksi.