DECEMBER 9, 2022
Kolom

Catatan Denny JA: Dana Abadi untuk Festival Tahunan Puisi Esai

image
Penjelasan Denny JA tentang sejarah festival puisi esai (Lifestyleabc.com/Kiriman)

LIFESTYLEABC.COM - “Seni bukan hanya cermin realitas, tetapi juga cahaya yang mengubahnya.”
— Bertolt Brecht

Kutipan ini yang saya ingat ketika memutuskan menyiapkan dana abadi untuk sebuah kegiatan seni: Festival Tahunan Puisi Esai.

Kutipan ini adalah pengingat bahwa seni, sebagaimana puisi esai, memiliki dua wajah: merekam kehidupan sebagaimana adanya dan menggerakkan dunia menuju apa yang seharusnya.

Baca Juga: Orasi Denny JA: Catatan dari Wina, Membuat Kota yang Paling Nyaman Dihuni

Dalam konteks puisi esai, seni ini menjadi cermin dan obor, merekam ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat sembari mengilhami kita untuk mencari keadilan.

Tapi seni, terutama sastra, membutuhkan ruang untuk tumbuh, panggung untuk menampilkan, dan dukungan untuk bertahan melawan hegemoni pasar bebas.

Dunia sastra adalah sebuah paradoks. Di satu sisi, penelitian menunjukkan bahwa membaca sastra meningkatkan empati. Para pembaca sastra cenderung lebih memahami penderitaan orang lain, lebih peka terhadap keragaman identitas, dan lebih peduli terhadap ketidakadilan.

Baca Juga: Catatan Denny JA: Mengapa Donald Trump Menang dan Apa Efeknya untuk Indonesia

Namun, di sisi lain, komunitas sastra jangka panjang tidak dapat hidup dari hukum pasar saja. Seni membutuhkan subsidi; sastra membutuhkan uluran tangan yang memastikan panggungnya tetap ada.

-000-

Sejarah membuktikan, dana abadi adalah katalis bagi keberlanjutan seni.

Baca Juga: Catatan Denny JA: Lima Prinsip Hidup Bahagia dan Bermakna

Andrew Carnegie, dengan visi mencerdaskan masyarakat, mendirikan ribuan perpustakaan. Hingga kini perpustakaan itu menjadi tempat belajar lintas generasi.

Halaman:
1
2
3
4
5

Berita Terkait