Dari Lukisan Paus Fransiskus Hingga Dimulainya Pergeseran Kreativitas
- Penulis : Bramantio Bayuajie
- Rabu, 04 September 2024 14:23 WIB

Namun, meskipun AI mampu menciptakan karya seni yang mengesankan secara teknis, ada satu elemen penting yang masih kurang: personalisasi dari seniman manusia.
Seni bukan hanya tentang keindahan visual atau keterampilan teknis; seni adalah tentang ekspresi, tentang cara seniman melihat dunia dan bagaimana mereka ingin menyampaikan visi mereka kepada orang lain.
AI mungkin dapat menghasilkan lukisan yang mirip dengan karya seorang master, tetapi ia tidak dapat memahami atau merasakan emosi yang mendorong penciptaan karya tersebut. Di sinilah peran manusia menjadi sangat penting—sebagai kreator yang memberikan roh pada karya seni yang dihasilkan.
Baca Juga: ORASI DENNY JA: Belajar Keberagaman dari Sayyidina Ali
Dengan munculnya Chat GPT 4.0, AI telah mengambil langkah lebih jauh dalam dunia seni visual. Chat GPT 4.0, misalnya, tidak hanya mampu menghasilkan deskripsi teks yang dapat digunakan untuk menciptakan karya seni visual, tetapi juga dapat memberikan analisis tentang gaya artistik tertentu dan bagaimana gaya tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut.
Ini membuka kemungkinan baru bagi seniman untuk bereksperimen dengan gaya dan teknik yang sebelumnya tidak mereka pertimbangkan, sambil tetap mempertahankan suara kreatif mereka sendiri.
Namun, dalam kolaborasi antara manusia dan AI, tantangan etis dan filosofis tetap ada. Apakah kita sebagai masyarakat siap menerima karya seni yang diciptakan oleh mesin sebagai bagian dari kanon seni kita?
Baca Juga: Pesan Denny JA pada Karya Lukisan Paus Fransiskus
Bagaimana kita menilai kualitas dan orisinalitas karya yang sebagian besar dihasilkan oleh algoritma? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat relevan di era di mana teknologi dan seni semakin terintegrasi, dan di mana batas antara kreator dan alat menjadi semakin kabur.
Dalam kajian teori, konsep The Extended Mind"yang dikemukakan oleh Andy Clark dan David Chalmers dapat memberikan perspektif menarik tentang bagaimana kita memahami peran AI dalam seni.
Menurut konsep ini, alat dan teknologi yang kita gunakan bisa dianggap sebagai perpanjangan dari pikiran kita sendiri. Dalam konteks seni visual, AI bisa dilihat sebagai ekstensi dari kreativitas seniman, sebuah alat yang memperluas batas-batas apa yang bisa dicapai oleh imajinasi manusia.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Di Kereta Itu, Tak Ditemukannya Sepasang Mata Bola
Namun, AI tidak bisa menggantikan pengalaman, intuisi, dan emosi manusia—unsur-unsur yang memberikan kedalaman pada karya seni.