Catatan Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?
- Penulis : Bramantio Bayuajie
- Sabtu, 21 September 2024 10:00 WIB

LIFESTYLEABC.COM - 1965, Bung Karno jatuh. Bujana, seorang pengagum Bung Karno, pelajar Indonesia di Yugoslavia, terperangkap dalam pengasingan. Ia rindu Indonesia, tapi takut pulang.
“Kutemukan jati diri,
setelah hilang segala."
“Hilang tanah air,
masih bisa kutahan.
Hilang kepastian hidup,
kubuat nyaman.
Hilang identitas,
menusuk hati,
mengikis perlahan jiwa yang dulu kukenal.
Tapi hilang kabar soal Ibu,
merobek seluruh hidupku."
Baca Juga: Catatan Denny JA: Pemulung itu Seorang Doktor
Puluhan surat sudah kutulis untukmu, Ibu.
Sampaikah?
Mengapa tak berbalas?
Atau mungkin,
kau berubah menjadi kenangan yang memudar,
hanyut di lautan waktu?
Tapi aku masih mencarimu,
di balik langit yang kelam,
di antara hujan yang tak pernah henti.
Angin mengguncang keras pohon di seberang jalan,
ranting-ranting melambai tak menentu,
menjadi tangan yang berusaha meraih bayangan.
Baca Juga: Orasi Denny JA: Mengapa Kita Perlu Forum Para Kreator di Era AI?
Wajah Ibu terayun di ujung ranting,
melambai di balik kabut yang menutup masa lalu.
Hujan turun deras,
mengguyur tubuh.
Itu tangisan yang tak kenal henti.
Bujana kuyub,
keringat dan rindu menyatu dengan air.
20 tahun sudah berlalu,
tanpa suara dari wanita yang mengajarkannya dunia.
Baca Juga: Catatan Denny JA: 12 Jam Protes Berbaring di Jalan Raya
Bujana,
asal Bali,
tumbuh di bawah bendera revolusi.