Catatan Denny JA: Kulihat Raksasa Itu Tumbang
- Penulis : Bramantio Bayuajie
- Minggu, 29 September 2024 09:05 WIB

LIFESTYLEABC.COM - Di tahun 1960-an, Mualim dikirim ke Moskow untuk belajar. Prahara politik dekade itu membuatnya tak bisa pulang, dan mengubah hidupnya.
Apa yang bisa diharap oleh daun,
yang lepas dari pohon,
melayang tanpa arah,
diombang-ambingkan angin?
"Akulah daun itu," kata Mualim,
dihempaskan oleh ilusi revolusi,
hilang, tanpa tahu di mana berakhir.
Baca Juga: Orasi Denny JA: Forum untuk Mulai Berkarya dengan Asisten Artificial Intelligence
Di Moskow, di masa tua,
Mualim kedinginan.
Namun, hatinya lebih beku.
Kebun di dadanya, dulu penuh bunga
dan yel-yel revolusi,
kini layu, tersisa luka yang menganga.
Ia menatap patung Lenin.
Angin membawa ingatannya jauh,
ke masa Indonesia menyala,
ketika revolusi adalah mantra.
Baca Juga: 4 Lukisan Karya Artificial Intelligence Denny JA: Era Dimulainya Karya Kolaborasi Kreator dan AI
Mualim, pemuda penuh api,
dikirim Bung Karno sekolah ke Moskow
Belajar untuk bangun negeri,
lalu kelak memetik bintang. (1)
Tapi api itu padam.
Bung Karno jatuh.
Zaman berbelok arah.
Mualim menjadi bagian dari cerita lama.
Pulang berarti penjara,
paspor dicabut,
ia melayang,
warga tanpa negara.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Kincir Angin Tak Bisa Menahan Rinduku
Waktu menghantamnya keras.
Moskow, negeri merah,
dengan Kremlin yang megah,
Kuba emas yang berkilau,
tak lebih dari bayangan yang sunyi.