Catatan Denny JA: Kulihat Raksasa Itu Tumbang
- Penulis : Bramantio Bayuajie
- Minggu, 29 September 2024 09:05 WIB

Di balik kemegahan,
jiwa terkubur,
seperti daun yang tertiup,
di atas tanah tandus.
Mualim, di jantung revolusi,
melihat ombak besar,
tak tahu kapan reda,
tak tahu di mana mereda.
Di antara menara raksasa, di kota Moskow,
Mualim melihat kebesaran yang kosong
patung Lenin berdiri,
tapi mata batunya hampa.
Baca Juga: Orasi Denny JA: Forum untuk Mulai Berkarya dengan Asisten Artificial Intelligence
Kereta bawah tanah melesat,
stasiun-stasiun penuh mosaik.
Namun, siapa peduli pada keindahan
ketika jiwa beku di dalam?
Ia tersesat,
di labirin kota yang dingin,
di janji revolusi yang meredup,
di salju yang turun tanpa akhir,
menelan tubuhnya perlahan.
Mualim berdiri di pinggir sungai Moskva,
menatap air yang tak mengalir,
seperti hidupnya,
terhenti, tak tahu ke mana pergi.
Baca Juga: 4 Lukisan Karya Artificial Intelligence Denny JA: Era Dimulainya Karya Kolaborasi Kreator dan AI
"Kembalilah!" seru suara dari jauh.
Namun apa arti pulang,
jika rumah tak lagi ada?
Apa arti tanah air,
jika hanya penjara yang menunggu?
Uni Soviet,
raksasa yang dulu ia puja,
perlahan runtuh,
seperti istana pasir tersapu ombak.
Batu-batu besar jatuh satu per satu,
tubuh besar kehilangan nyawa.
Dan Mualim,
dulu pemuda penuh semangat,
kini hanya saksi.
Revolusi yang dulu membakar dada,
kini abu yang dihembus angin,
lenyap dalam dingin Moskow
yang tak peduli.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Kincir Angin Tak Bisa Menahan Rinduku
Revolusi hanya ilusi,
cermin retak yang memantulkan kosong.
Mualim,
sungai yang kehilangan hulu,
mengalir tanpa tujuan,
tak pernah tiba di laut.