Catatan Denny JA: Kulihat Raksasa Itu Tumbang
- Penulis : Bramantio Bayuajie
- Minggu, 29 September 2024 09:05 WIB

Raksasa yang ia puja tumbang,
bukan dengan gemuruh,
tapi dengan sunyi yang menusuk,
seperti pohon besar kehilangan akar,
runtuh tanpa sisa,
meninggalkan debu yang beterbangan.
---
Kini, Mualim tua,
tersesat dalam bayang-bayang,
berdiri di reruntuhan mimpi.
Revolusi yang ia puja,
hanya angin yang berhembus,
tanpa arah.
Baca Juga: Orasi Denny JA: Forum untuk Mulai Berkarya dengan Asisten Artificial Intelligence
Tak ada yang tersisa untuk dirayakan,
hanya rindu yang tak padam.
Rindu pada tanah air,
pada masakan ibu di dapur,
pada wayang kulit hingga subuh,
pada keriangan masa kecil,
mandi di bawah pancuran hujan.
Walau tubuh tinggal di Moskow,
batinnya melayang,
menapak tilas perjalanan pulang,
hanya di angan-angan.
Dan tiba-tiba ia sadar,
bahwa rindu yang selalu ia peluk
adalah satu-satunya yang tersisa:
tak ada revolusi, tak ada negara,
hanya rindu yang bertahan.
Baca Juga: 4 Lukisan Karya Artificial Intelligence Denny JA: Era Dimulainya Karya Kolaborasi Kreator dan AI
Tapi rindu itu, seperti revolusi,
tak pernah sampai,
tak pernah menjejak tanah.
Ia selalu melayang,
seperti dirinya,
terhempas angin,
terlepas, tanpa akar. *
Jakarta, 30 September 2024.
CATATAN:
Baca Juga: Catatan Denny JA: Kincir Angin Tak Bisa Menahan Rinduku
(1) Puisi ini diinspirasi oleh kisah nyata banyak pelajar Indonesia yang disekolahkan ke luar negeri pada tahun 1960-an. Namun, prahara politik membuat mereka menjadi eksil, terbuang dari Indonesia.*