Catatan Denny JA: Seorang Seniman yang Tak Kembali
- Penulis : Bramantio Bayuajie
- Senin, 07 Oktober 2024 17:40 WIB

Saat Bung Karno jatuh,
Rahman tersapu arus yang tak ia kenali,
hanyut bersama serpihan mimpi,
jejaknya menghilang di trotoar Braga,
sebelum ada yang bisa mengenangnya.
Kini, di ujung waktu,
Rahman tahu:
ia memang bukan pion revolusi.
Sejarah salah menempatkannya.
Ia hanya seniman yang tersingkir dari kanvas hidupnya.
Warnanya direnggut kekuasaan.
Baca Juga: LSI Denny JA Rilis Data Tentang Kekhawatiran Masyarakat Soal Judi Online Untuk Keuangan
Di Moskow, di Belanda,
ia perahu tanpa dermaga,
terapung di pantai asing
yang tak pernah memberi rumah.
Negeri itu memang memberinya atap.
Tapi itu atap yang dingin,
hanya teh pagi yang tak lagi hangat di Lembang,
kabut yang menyelimut,
tapi tanpa keakraban.
Mereka memberinya tempat bersandar,
tapi hatinya masih tertinggal di gang sempit Bandung,
di tawa pasar alun-alun.
Rindu yang tak berjawab.
Baca Juga: LSI Denny JA Rilis Data Tentang Perkembangan Ekonomi 10 Tahun Pemerintahan Jokowi
Rahman ingin pulang,
bukan ke tanah yang melupakannya,
tapi ke dirinya sendiri—
pelukis yang bebas,
penyair yang menghidupi cinta.
Namun tubuhnya rapuh,
tangannya gemetar di setiap sapuan kuas,
suaranya lenyap di balik gemuruh sejarah
yang tak pernah ia kendalikan.
Dulu, Rahman adalah seniman,
namun ideologi merampas jiwanya,
mencuri warnanya,
menjadikannya alat tanpa ruh.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Dilema di Tanah Asing
Kini, di ambang waktu,
ia ingin kembali melukis matahari
yang tenggelam di Tangkuban Perahu,
menulis tentang pasar Bandung yang penuh kehidupan.