Catatan Denny JA: Seorang Seniman yang Tak Kembali
- Penulis : Bramantio Bayuajie
- Senin, 07 Oktober 2024 17:40 WIB

Bukan demi revolusi,
tapi demi cinta yang tak pernah padam,
demi kedamaian yang hilang.
Rahman tahu,
tak ada jalan pulang.
Tanah airnya tak lagi mengenali wajahnya,
dan dunia yang pernah ia warnai
telah berlalu tanpa menoleh.
Namun ia tak lagi mengejar bayangan.
Yang ia dambakan hanya jejak yang tersisa:
bukan sebagai roda ideologi yang keras,
tapi sebagai insan yang menitipkan cinta,
melalui puisi selembut angin,
melalui lukisan yang berbisik dalam diam.
Baca Juga: LSI Denny JA Rilis Data Tentang Kekhawatiran Masyarakat Soal Judi Online Untuk Keuangan
Ia ingin kuasnya dikenang,
bait puisinya mewarnai hidup,
meskipun waktu akan memudarkan segalanya.
Rahman sepenuhnya menyadari.
Hidupnya akan pudar seperti warna di kanvas usang.
Namun ia titipkan cahaya kecil dalam setiap garis lukisan,
dan bait puisi.
Baca Juga: LSI Denny JA Rilis Data Tentang Perkembangan Ekonomi 10 Tahun Pemerintahan Jokowi
Ketika ia tak lagi ada, kenangan atasnya tetap mengalir,
bukan sebagai suara lantang
revolusi,
melainkan bisikan lembut
seorang seniman yang
menghidupi cinta.*
Jakarta 7 Oktober 2024
CATATAN
Baca Juga: Catatan Denny JA: Dilema di Tanah Asing
(1) Kisah ini adalah fiksi, diinspirasi oleh Kuslan Budiman, seniman yang terbuang ke luar negeri akibat prahara politik tahun 1960-an.