Catatan Denny JA: Ilmu Menjadi Tanah Air Pengganti
- Penulis : Bramantio Bayuajie
- Jumat, 04 Oktober 2024 10:45 WIB

Sepi datang, menjadi virus
lebih dingin dari salju,
lebih kejam dari revolusi yang gagal,
mengiris jiwaku,
mengoyak mimpi yang pernah mekar,
di atas ilusi kekuasaan.
“Aku berlari,
tapi dari apa?
Dari diriku sendiri?”
Namun di tengah kehancuran,
seberkas cahaya muncul,
bukan dari api revolusi yang meredup,
melainkan dari dunia ilmu pengetahuan,
yang diam-diam menyusup,
membuka jendela ke dunia yang lebih luas.
Baca Juga: Catatan Denny JA: 12 Jam Protes Berbaring di Jalan Raya
Jika tak ada tanah untukku,
aku akan menciptakan rumah
dari ilmu yang kupelajari.
Ini rumah tanpa batas,
tanpa paspor,
tanpa negara,
setiap molekul menjadi pijakan.
Dari Moskow, Sartono mencari jalan, ke Berlin, lewat jalan rahasia, tersembunyi.
Rasa takut dikalahkan jeritan kebebasan.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Mereka yang Terbuang Tahun 1960-an
Berlin Barat, 1977.
Aku tiba dengan tangan kosong,
berlindung dari bayangan masa lalu.
Tak ada nama yang memanggilku,
tak ada jejak yang mengenaliku.
Namun di Max Planck,
aku temukan tanah air baru,
bukan dari tanah,
tapi dari rumus dan formula ilmu,
yang menjawab sepi dalam dadaku.
“Ilmu adalah jalanku pulang,”
bisikku pada malam tanpa bintang.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Kulihat Raksasa Itu Tumbang
Setiap rumus yang kugoreskan
adalah puisi,
setiap temuan riset adalah nyanyian,
membangkitkan jiwa yang pernah hilang.