Catatan Denny JA: Perempuan Itu Belajar di Bawah Cahaya Kunang-Kunang
- Penulis : Bramantio Bayuajie
- Kamis, 03 Oktober 2024 16:15 WIB

LIFESTYLEABC.COM - Di tahun 1960-an, Sartika dikirim sekolah ke Bulgaria. Prahara politik di dekade itu mengubah hidupnya)
Malam di Vietnam, 1963.
Suara ledakan menghantam langit,
tanah di bawah kaki Sartika dipenuhi darah hangat.
Arus sungai tumpah dari tubuh tak bernyawa.
Wajahnya memucat,
bertanya dalam diam—siapa pemilik darah ini?
Baca Juga: Catatan Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?
Di antara pohon-pohon yang bisu,
ia melihat revolusi tak lagi berwujud kata,
tapi luka yang tak terhindarkan,
Peluru.
Bom.
Dinamit.
Darah.
Sartika duduk,
botol kecil berisi kunang-kunang di tangannya,
cahaya mereka bergetar,
melawan kegelapan malam yang menelan segala.
Di bawah nyala kunang- kunang,
ia membuka buku tentang revolusi,
namun kata-kata di sana mengalir menjadi sungai yang terpecah,
menggulung janji-janji yang kini terasa tak nyata.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Kincir Angin Tak Bisa Menahan Rinduku
Bagi Sartika,
revolusi kini bukan lagi mimpi di atas kertas,
itu adalah bara di nadi,
menghanguskan ketakutan,
memercikkan api keberanian di setiap langkah.
Agustus 1965.
Sartika kembali ke Jakarta,
revolusi makin berdenyut di dada.
Indonesia bersinar,
Pagi, Bung Karno adalah matahari.
Malam, Bung Karno bintang di langit.
Api Sartika mengambil bagian,
Baca Juga: Catatan Denny JA: Tak Kutemukan Surga di Sana
Revolusi kian memanggil.
Ia dikirim sekolah ke Bulgaria.
Tapi Bung Karno jatuh.
Badai topan berbelok.
Langit runtuh.