Catatan Denny JA: Perempuan Itu Belajar di Bawah Cahaya Kunang-Kunang
- Penulis : Bramantio Bayuajie
- Kamis, 03 Oktober 2024 16:15 WIB

mimpi-mimpi kini berhamburan,
menjadi kaca, pecah tanpa suara.
Paspor Sartika dicabut,
Ia menjadi burung tanpa sarang,
melayang di atas tanah-tanah yang asing,
tak ada panggilan pulang.
Di Belanda,
di tanah asing yang dingin,
Sartika mulai merasakan perubahan.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?
Dulu, api revolusi adalah senjata api,
bom,
dinamit.
Debu pertempuran sudah mengendap,
Sartika merasakan bisikan lain,
bukan dentuman senjata,
bukan kilatan api.
Datang suara yang halus seperti angin,
membawa cerita dari jiwa-jiwa perempuan,
yang tertindas,
terkubur.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Kincir Angin Tak Bisa Menahan Rinduku
Ya, ya, kini menyala api lain,
lebih lembut,
tapi kuat.
Dilihatnya perempuan tersingkir.
Burung membawa wahyu kecil padanya.
kekuatan tidak hanya peluru.
Ledakan itu datang dari kata-kata,
yang ditenun dengan hati.
Kata bisa menghancurkan kebisuan yang telah lama menindas.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Tak Kutemukan Surga di Sana
Feminisme menyentuh jiwa,
bangkitkan revolusi bentuk lain,
tak bakar tubuh,
tetapi bebaskan pikiran terpenjara.