Catatan Denny JA: Perempuan Itu Belajar di Bawah Cahaya Kunang-Kunang
- Penulis : Bramantio Bayuajie
- Kamis, 03 Oktober 2024 16:15 WIB

Sartika dirikan jurnal,
menulis bukan untuk berbicara,
tapi untuk membelah sunyi,
dan merajut kembali sejarah yang melupakan mereka yang kalah.
Kini ia tahu,
perjuangannya bukan hanya untuk satu bangsa,
tapi untuk perempuan yang suaranya dibungkam,
mereka yang terbuang dari sejarah.
“Rumah tak lagi di tanah tempat kakiku berpijak,”
bisiknya, “tapi di setiap suara yang kubangkitkan.”
Baca Juga: Catatan Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?
Ia menatap jauh ke depan,
melihat gema perempuan yang terlupakan,
suara-suara yang menunggu untuk dihidupkan kembali,
dari keheningan yang membelenggu.
Dan cahaya kunang-kunang,
yang dulu kecil dan rapuh,
kini menyala di jiwanya.
Ia semakin yakin.
Sejarah tak hanya ditulis dengan darah,
tapi juga dengan kata.*
Baca Juga: Catatan Denny JA: Kincir Angin Tak Bisa Menahan Rinduku
Jakarta, 3 Oktober 2024
CATATAN:
Kisah ini adalah fiksi, terinspirasi dari kehidupan eksil politik Indonesia, dengan tambahan fiksi: Farida Ishaja, akibat prahara tahun 1960-an:
Baca Juga: Catatan Denny JA: Tak Kutemukan Surga di Sana
Secuil Kisah Eksil ’65 Farida Ishaja dan Aminah Idris Di Belanda, Diantaranya Keduanya Kemudian Aktif di Yayasan Dian – Organisasi Perempuan Indonesia di Belanda – Perpustakaan Online Genosida 1965-1966