Catatan Denny JA: Dilema di Tanah Asing
- Penulis : Bramantio Bayuajie
- Sabtu, 05 Oktober 2024 09:55 WIB

Mereka memberiku atap untuk berlindung,
sejumput hak,
dan kehormatan yang dingin, seperti mantel yang melindungi tubuh, namun tak pernah menghangatkan jiwa yang mulai rapuh.
Tapi lihatlah hatiku.
Ia tertinggal di antara sawah menguning di Wonosobo,
di bawah langit yang senantiasa berubah,
di tanah yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan.
Tapi pulang? Pulang itu apa, kawan?
Aku memang rindu suara hujan di atap seng,
rindu harum tanah basah yang dulu kusapa setiap pagi di rumah ibu, di pinggir sawah.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Kincir Angin Tak Bisa Menahan Rinduku
Namun, apakah tanah itu masih mengenalku?
Apakah aku masih punya hak untuk berdiri di atasnya,
atau hanya bayangan yang tak lagi diingat?
Politik telah berubah,
reformasi katanya, pintu terbuka,
namun aku tetap terperangkap.
di antara kerinduan yang terus menggeliat
dan ketakutan yang tak kunjung padam.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Tak Kutemukan Surga di Sana
Tubuhku renta,
di sini mereka memberiku kursi empuk,
segelas teh hangat,
dan janji bahwa aku tak perlu takut hari tua.
Tapi apakah itu cukup?
Apakah kursi empuk bisa menggantikan kerasnya rotan ibu?
Apakah teh hangat bisa menghapus kenangan kelapa segar
yang kuteguk di bawah terik matahari kampung halaman?
Aku bimbang, kawan,
langit Indonesia tetap memanggil,
namun di bawahnya, tanah yang dulu akrab kini terasa asing.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Ilmu Menjadi Tanah Air Pengganti
Aku ingin pulang,
tapi ketakutan membelit.
Aku takut negeri itu tak lagi mengenal wajahku yang penuh keriput,
takut tak ada lagi kehangatan menyambutku di sana.